Assalamualaikum Wr, Wb….
Hampir satu bulan tidak update Blog dikarenakan kesibukan di dunia nyata heuh….
Mari kita refreshing sejenak…
Di bawah adalah sebuah tulisan dari seorang teman, Her name is Lyta. Tulisan yang sangat menginspirasi, moga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya…
—————————————————————————————
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. Kalimat tersebut tentunya sangat familiar di telinga kita. Thomas Alva Edison, seorang penemu dengan 1.093 hak paten yang dalam hidupnya hanya bersekolah selama tiga bulan, terlahir dalam keluarga miskin, penderita disfungsi, agak tuli pula. Alva juga seorang penderita dyslexia yaitu sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Tak heran bila Alva dikenal sebagai anak yang bodoh oleh gurunya. Lalu mengapa dia bisa menjadi orang yang istimewa sekarang?
Kawan, sekarang bukan saatnya untuk bertanya mengapa. Mengapa aku terlahir sebagai lelaki? Atau mengapa aku terlahir sebagai perempuan? Atau tidak kedua-duanya, misalnya? Mengapa aku terlahir sebagai anak dari keluarga miskin? Atau mengapa aku terlahir sebagai anak dari keluarga kaya yang miskin kasih sayang? Apalagi bertanya : mengapa aku terlahir dengan wajah sedikit cakep dan banyak jeleknya? Semua itu adalah pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh teman-teman kita, saudara kita, tetangga kita, tetangga saudara kita, saudara tetangga kita, atau bahkan oleh kita sendiri. Kita? Lu aja kali, gue enggak!
Namun pertanyaan yang ada dibenakku adalah : Mengapa aku terlahir sebagai manusia? Tidak hewan atau tumbuhan, makhluk yang paling pendiam sedunia. Tumbuhan, makhluk yang paling kaya. Hmm…, bukankah diam adalah emas?
Yeah, sekarang bukan saatnya untuk bertanya mengapa. Mengapa aku diciptakan sebagai manusia? Tidak malaikat, misalnya. Hmm…, siapa juga yang ingin terlahir sebagai s****(maaf, kata tersebut tidak dapat ditampilkan karena tidak lulus sensor). Namun setidaknya semua yang telah ada patut untuk disyukuri, Kawan.
Mungkin aku bukanlah seorang Thomas Alva Edison. Aku hanyalah seorang pemalas yang sering menunda-nunda pekerjaan dan ditakdikan memiliki segudang kekurangan dalam hidupku. Yeah, segalanya patut disyukuri, Kawan. Sekaranglah saatnya untuk berpikir positif bahwa kekurangan adalah kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Bukankah masalah akan mudah dipecahkan dengan cara mengubah cara pandang kita?
Hidup bagaikan sebuah perjalanan yang mungkin semasa hidup, kita membangun sebuah istana untuk tempat berteduh tapi, bukan suatu tujuan akhir. Biarkanlah istana itu dijadikan tempat berteduh untuk orang lain dan kita melanjutkan perjalanan lagi. Hidup penuh dengan pilihan. Semua yang terjadi dalam hidup, sebab-akibat yang terjadi bukan karena takdir, tapi akibat dari pilihan kita.
Dalam perjalananku, aku menemukan banyak pilihan, tak sedikit kegagalan, jatuh bangun, dan tentu saja impian yang ingin aku raih. Aku menyadari, aku adalah orang yang mudah putus asa dibanding Alva (sok akrab!) yang pantang menyerah melakukan percobaan dalam menemukan penemuan-penemuannya. Namun setidaknya aku selalu berusaha bangkit di setiap kegagalan yang terjadi. Bukankah jatuh adalah hal biasa dan bangkit adalah sesuatu yang luar biasa? Dan tentunya, aku selalu takut ketika aku berhenti untuk berusaha. Siapa yang tahu jika keberhasilan datang setelah ini! Bukankah perasaan mampu dan tidak mampu seringkali hanya dibatasi selembar kemauan?
Kawan, ada satu hal yang selalu aku yakini bahwa kesuksesan akan mengikuti orang-orang besar yaitu orang-orang yang mau belajar dan bekerja keras.
Seperti kata Alva, “Menjadi jenius butuh 1% inspirasi dan 99% kerja keras.” Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di otakku setiap kali aku melihat cahaya. Dan penemuan Alva berupa bohlam adalah wujud nyata betapa indahnya cahaya ilmu pengetahuan. Bagaikan seberkas cahaya dengan kecepatan 3x 108 yang melesat menerangi otakku, Alva memberiku inspirasi menaklukan setiap jalan terjal dalam perjalanan panjang ini.
Jangan biarkan keterpurukan mengalahkanmu karena waktu tidak akan berhenti untuk menunggumu. Kawan, jika suatu saat kau terjatuh dalam hidupmu, lalu kalimat tokoh besar sekalipun tak mampu membuatmu bangkit dan menginspirasimu, buatlah dirimu sendiri menjadi inspirasi. Yakinlah pada kekuatan besar yang ada pada dirimu karena sekuat apa diri kita adalah apa yang kita yakini.
————————————————————————–
Sekian Wassalamualaikum, wr, wb
Original Post http://www.facebook.com/note.php?note_id=391792091945
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian